Sabtu, 15 Juni 2013

Budaya Jelajah FLP "Museum Aceh"

Minggu pagi itu, saya 'digegerkan' dengan kedatangan sms dari Aslan Saputra. Dia menanyakan alamat Riri Istafha perihal peminjaman TOA dari kawan dekatnya. Cepatnya kami sms-an malah sudah seperti lagi BBM-an. Padahal saya dan Aslan sama-sama pake hape buntut. Aslan tampak bingung mengenai alamat kosan Riri. Katanya waktu dia menelpon saya, bingung dengan penjelasan rumit dari Martunus. Lika-liku ke alamat tempat tinggal Riri membingungkan. Kemudia Aslan tanya lagi, “Bang dimana tempat futsal ****** (belum lulus sensor)”?. Lantas saya jelaskan dimana tempat futslanya. Aslan ya ya saja apa yang saya katakan, paham bener Aslan, saya membatin.


Hujan juga masih belum reda. Kadang-kadang gerimis, kadang kalang kabut airnya diterpa angin. Kalaupun ada Syahrini di samping saya pagi itu, pun bulu mata anti badai dia juga gak bakalan menang. Yuhu mbak Syah, kalahkan sama kuasa Tuhan. Suasana hujan begitu, saya sms bang ferhat. “bang jadi kita jelajah budaya? *cuaca”. Bang Ferhatt.com membalas, “Iya jadi, ini bg mau kesana lagian udah redaan hujanya”.

Saya menuju ke Museum Aceh. Di jalan sudah ramai kembali, beberapa orang nekat mengendarai motor di tengah hujan. Sampai di Museum Aceh, tepatnya di Rumoh Adat Aceh. Wajah pertama yang mentereng ya bang Ferhatt.com, tampak cemberut dan kedinginan, sayanglah belum ada pendamping hahaha. Sejenak kemudian menyusul bang Dony Daroy, Aslan dan bang Nazri Syah. Dari bang Nzarilah saya tau kalau rumoh adat Aceh ini bukanlah yang aslinya milik Cut Nyak Dhien, ini bisa dikatakan sebagai monumen yang dibuat oleh pemerintah. Katanya kalau yang asli ada di Lhok Nga, Aceh Besar.
Yang datang lebih awal

Masih belum banyak yang datang. Saya dan yang lain rencana mau membatalakan jelajah budaya ini. Pastinya yang akan memfatwakan pembatalan jelajah budaya ini ya bang ferhatt.com selaku pemangku FLP, kami-kami yang muda masih harus banyak pelajari dulu ilmu-ilmu aneh dari beliau. Sayapun kalau jadi pembatalan harsu tsiqoh dengan fatwa ini.
Perkiraan saya jam 10 lewat ibu Laila selaku pemandu jelajah budaya datang ke Museum Aceh bersama anaknya. Jelajah budaya ini adalah termasuk ke dalam kelas menulis juga, yang nantinya setiap peserta diwajibkan menulis dari hasil jelajah budaya tersebut. Setau saya ini adalah jelajah budaya pertama kali yang dilakan oleh FLP. Sebelum-sebelmunya kelas menulis banyak dimeriahkan di Rumah Cahaya (Rumcay).

Situs pertama yang kami kunjungi yaitu makan Sultan Iskandar Muda. Pada saat kita datangi pertama memang sudah ada pamflet nama menandkan bahwa itu adalah makan Sultan Iskandar Muda. Bentuk makamnya berbeda jauh dengan makam-makan raja terdahulu. Pada badan makamnya dihiasai dengan ukiran-ukiran aksara Arab. Dari penjelasan Ibu Laila barulah saya tau ternyata ini bukan makam Sultan Iskandar Muda. Ini cuma monumen saja, karena pemerintah sendiri tidak tau lagi diman sebenarnya makam asli Sultan Iskandar Muda. Pantas saja saya sedikit curiga dan ragu pad saat pertama kali melihatnya tidak seperti pada makam-makan pahlwan Aceh lainnya. Tidak menampakkan bahwa itu adalah makan raja yang disertai biasanya dengan juru kunci makam. Sultan Iskandar Muda dikenal seantero Asia Tenggara, perihal kekuasaanya hampir menguasainya pulau Sumatera. Hubungan politiknya dengan pihak luar, semisal Sultan-sultan di Turki.
Monumen Makan Sultan Iskandar Muda

Setelah Sultan Iskandar Muda mangkat, barulah digantikan oleh Sultan Iskandar Tsani. Banyak orang tidak tau bahwa Sultan Iskandar Tsani banyak berkecimpung dalam suasana arah pergerakan politik, pendidikan, dan kebudayaan bagi masyarakat Aceh. Kebanyakannya orang lebih mengenal sosok Iskandar Muda ketimbang Iskandar Tsani. Ini karena pengaruh dari pembicaraan-pembicaraan masyarakat awam saja. Sebenarnya ada situs-situs cagara budaya di Aceh yang suda mendapatkan SK (Surat Keterangan) dari awalnya. Tempat-tempat di Banda Aceh seperti Mesjid Raya Baiturrahman, Tower Air, Makam Kerkhof, Gunongan, dan beberapa situs lainnya. Kalau tidak ada SK-nya maka tidak bisa disebut sebagai cagar budaya, padahal untuk saat ini SK tersebut bisa dikeluarkan oleh Gubernur atau Bupati/Wali Kota, begitu penjelasan dari Ibu Laila.

Jelajah budaya dilanjutkan mengunjungi Kandang Meuh, yang merupakan komplek makam-makam keturunan raja-raja aceh. Di arena pekuburan ini ada makam orang dewasa dan beberapa makam anak-anak, namun tanpa keterangan. Komplek makam Kandang Meuh ini terdiri dari makam Putri Raja Anak Raja Bangka Hulu, Sultan Alauddin Mahmudsyah, (1760-1764), Raja Perempuan Darussalam, Tuanku Zainal Abidin dan keluarga kerajaan lainnya. Dikatakan Kandang Meuh, karena dulunya makam-makan yang ada disini semua dilapisi dengan emas. Namun, karena proses zaman dan rasa cinta yang kurang, kebanyakan terjadinya aksi penjarahan. Sehingga hari ini kita Cuma mengenal namanya saja ­Kandang Meuh yang dalam bahasa indonesia berarti makam-makam emas. Sebelah makam Kandang Meuh ini ada juga gedung Juang, bekal peninggalan masa perang kemerdekaan dulu. Pintu depannya sudah digembok. Perawatannya sangat kurang, ada sebagian dinding gedung ini terkelupas.

Komplek Makam Kandang Meuh

Tak jauh dari gedung juang, kami melanjutkan jelajah budaya kemakam berikutnya. Pada komplek makam ini lebih besar ketimbang komplek makam Kandang Meuh dan almarhum-almarhumah keturunan raja-raja dulu juga lebih banyak. Saya sempat bertanya pada ibu Laila perihal perbedaan sebutan bagai kaum laki-laki di Aceh. Ada empat katerogi dan ‘kelas’, yaitu Teungku, Tengku (tanpa U), Teuku, dan Tuanku. Berikut saya rincikan:
1.      Teungku; sebutan dikhususkan bagi ahli ilmu-ilmu agama atau pemuka agama/ulama.
2.      Tengku; sebutan bagi saudagar bangsa Bugis yang datang ke Aceh.
3.      Teuku; sebutan bagi orang kaya/saudagar yang ada di Aceh.
4.      Tuanku; sebutan bagi keturuan-keturunan Melayu yang mendominasi wilayah Aceh.
5.      Thank You!

Peserta Jelajah Budaya FLP Aceh

Makam Keturunan Raja-raja Aceh

Kami menelusuri kembali komplek Museum Aceh. Semua peserta jelajah budaya menuju Rumoh Adat Aceh. Tepat kami datang, tepat pula di tutup untuk waktu kunjungan. Saya ambisisu ingin masuk ke dalam rumah adat Aceh itu. di bawahnya di lengkapi dengan jeungki, alat tradisional pembuat tepung masyarakat Aceh, meriam masa perang, kayu pohon Peureulak, Geureubak, dan ada juga Krong Pade, sebagai tempat menyimpan hasil panen padi.
Ceuklik Sigo Hai!

Rumoh Aceh
Selanjutnya kami menuju ruang galeri museum. Di dalamnya terdapat berbagai macam informasi berupa gambar dan disertai keterangan-keterangannya. Ada guci-guci besar di tengahnya. Pada sudut sebelah kiri ditempati dengan alat Peunuerah Pliek, keranjang-keranjang tradisional, minyeuk pliek, air tebu, dan beberapa perlengkapan membajak sawah atau bahasa Acehnya disebut dengan Langai. Saya tertarik melihat replika mesjid Raya Baiturrahman. Ada empat buah kotak replikanya. Yang pertama adalah bentuk mesjid yang paling awal berdiri, bentuknya tidak berbeda jauh dengan bentuk mesjid-mesjid di daerah Jawa, katakanlah mesjid Demak. Setelah dibakar Belanda dan dibangun kembali, tapi dengan bentuk yang berbeda memiliki satu kubah, kemudian dibakar untuk kedua kalinya leh Belanda dan saat pemugaran menjadi tiga buah kubah sampai menjadi lima buah kubah seperti sekarang ini dan lengkap dengan menaranya. Pada posisi kanan sudut dilengkapi dengan foto-foto zaman dulu baik masa kerajan dan masa-masa penjajahan juga da peta-peta tentang hubungan diplomatis Aceh dengan Turki Ostmani. Ada juga beberapa perlengkapan menjaring ikan atau bahasa Acehnya disebut Jeeuu. Pada pintu masuknya kita disuguhi oleh bayi kerbau dengan dua kepala yang sudah di awetakan. Kami mengakhiri jelajah budaya itu dengan makan-makan oleh-oleh dari Amaliya dari tanah Minangkabau. Tak benar namanya anak-anak FLP kalau tak berfoto ria dulu. Jelajah budaya yang menyenangkan.
Kalo gak mau foto, kenak doorrr... !
Van Cheng dan Pasukannya









4 komentar:

Aslan Saputra mengatakan...

Bang, tulisannya banyak yg tinggal kok huruf-hurufnya ?

Catatan sii Dara** mengatakan...

Mantabb :D
Lengkap ya penjelasannya bang,.. hehe

Anonim mengatakan...

Aslan : iyaa lan, buru2 kmren nulisnya hehe

Anonim mengatakan...

daraaa : detail ya, hahaha, padahal gk tau bnget tuh yg jelajah kmren, hehe

Kata Saya

"Jabatan hanya persoalan struktural. Persahabatan selamanya."