Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Desember 2023

Perjalanan Pendidikan Nasional Indonesia

Minggu, Desember 31, 2023


“Pendidikan adalah tempat persemaian segala benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan.”

Ki Hajar Dewantara


Pernyataan ulanganya ini diutarakan Ki Hajar Dewantara di hadapan Dewan Senat saat menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada 7 November 1959. Maksud pernyataan ini adalah agar segala unsur peradaban dan kebudayaan tadi dapat tumbuh dengan sebaik-baiknya. Dan dapat kita teruskan kepada anak cucu kita yang akan datang.


Menurut Ki Hajar, lahirnya Taman Siswa yang ia gagas bahwa kemerdekaan nusa dan bangsa untuk mengejar keselamatan dan kebahagiaan rakyat, tidak mungkin tercapai hanya dengan jalan politik. Terhadap pergerakan politik, orang tahu akan gambaran khayal Ki Hajar, yang kerap kali juga sudah beliau jelaskan, bahwa untuk dapat bekerja di sawah dan ladang dengan tentram dan seksama (yakni tugas cara pendidik dan para pejuang kebudayaan) sangat kita perlukan adanya pagar yang kokoh dan kuat, untuk menolak segala bahaya yang mengancam dari segala kekuasaan dan kekuatan yang mungkin dapat merusak sawah dan ladang serta tanaman-tanamannya, yang kita pelihara. “Pagar” tadi tidak bukan dan tak lain adalah pergerakan politik rakyat kita. Itulah sebabnya selalu adanya hubungan yang baik dan erat antara pergerakan pendidikan dan kebudayaan Taman Siswa dengan pergerakan politik.


Merujuk pada pandangan ini, maka sebaiknya kita perlu mengenal lebih jauh perjalanan pendidikan nasional dari masa Belanda hingga masa setelah kemerdekaan.


Politik Pendidikan Zaman VOC dan Hindia Belanda


Pada zaman beralihnya V.O.C (Vereenigde Oostindische Compagnie) menjadi pemerintah “Hindia Belanda”, maka sebenarnya sekali-kali tidak ada perubahan sikap dan tindakan terhadap segala urusan tanah air kita. Pada hakekatnya pemerintah HB (Hindia Belanda) merupakan konsolidasi dari segala apa yang tadinya dilakukan oleh VOC tersebut. Baru sesudah nampak adanya kebangunan nasional pada permulaan abad ke-20, bersama waktu dengan mulai tumbuhnya aliran “kolonial modern”, yang disebut ethische koers atau ethische politiek di Nederland, barulah nampak adanya perubahan dalam sikap pemerintah kolonial.


Pemerintah Nederland dibentuk kembali (tahun 1816), maka di negeri kita Indonesia oleh pemerintah HB diadakan peraturan-peraturan pemerintah pokok, semacam “Undang-Undang Dasar'' (yang disebut Regeeringsreglement, singkatan dari Replacement op het beleid van de Regeering van Nederlands Indie). Pasal 128 dalam soal itu menyebutkan: De goeverneur-generaal zorgt voor de oprichting van scholen tenminste van de Inlandse bevolking, dan ini berarti untuk rakyat gubernur-jenderal diserahi untuk mendirikan sekolah-sekolah. Lain tidak; lebih daripada mendirikan pun tidak. Tak ada disebut-sebut di situ tentang keharusan, tentang kebutuhan, tentang perlunya ada usaha yang mencakup dan lain-lain sebagainya. Pada waktu itu ada beberapa bupati mendirikan “sekolah-sekolah kabupaten”, tetapi hanya untuk mendidik calon-calon pegawai. Kemudian lahir, Reglement voor het Inlands onderwijs; lalu didirikan sekolah guru di Sala, yang kemudian pindah ke Magelang, lalu ke Bandung (1866).


Zaman Etik dan Kebangunan Nasional


Haluan daripada sistem pendidikan, yang diadakan oleh pihak Belanda seperti tergambar di atas itu, tetapi harus mempengaruhi segala usaha pendidikan. Juga yang dilakukan sesudah aliran Ethische politiek atau Etishche koers timbul, pada permulaan abad ke-20 (dan sebenarnya sebagai akibat “Kebangunan Nasional” pada permulaan abad ke-20). Pada hal pendidikan dan pengajaran itu sebenarnya harus bersifat pemeliharaan tumbuhnya benih-benih kebudayaan. Juga sekolah-sekolah yang didirikan oleh bangsa kita sendiri (sesudah menginjak ke dalam zaman “Kebangunan Nasional”) tidak dapat melepaskan diri dari belenggu intelektualisme, individualisme, materialisme dan kolonialisme.


Zaman Bangkitnya Jiwa Merdeka


Baru pada tahun 1920 timbullah cita-cita baru, yang menghendaki perubahan radikal dalam lapangan pendidikan dan pengajaran. Cita-cita baru tadi seakan-akan merupakan gabungan kesadaran kultural dan kebangkitan politik. Idam-idaman kemerdekaan nusa dan bangsa sebagai jaminan kemerdekaan dan kebebasan kebudayaan bangsa, itulah pokok sistem pendidikan dan pengajaran, yang pada tahun 1922 dapat tercipta oleh “Taman Siswa” di Yogyakarta. Bahwa aliran Tamansiswa itu sebenarnya sudah terkandung dalam jiwa rakyat di seluruh tanah air kita, adalah terbukti dengan berdirinya perguruan-perguruan Tamansiswa di seluruh kepulauan Indonesia: di Jawa, Sumatera, Borneo, Sulawesi, Sunda Kecil dan Maluku. Juga sekolah-sekolah yang berdasarkan “keagamaan” (Islam, Kristen, Katolik), asalkan berani berdiri sebagai sekolah partikelir yang tidak mendapatkan subsidi dari pemerintah Hindia Belanda, di samping dasar-dasar keagamaannya masing-masing, memasukan juga dasar dan semangat revolusioner.


Penguatan Pendidikan Nasional Menurut Ki Hajar Dewantara


Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan perkembangan budi pekerti (kekuatan batin), fikiran (intelek), dan jasmani anak-anak. Maksudnya ialah supaya kita dapat memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak, selaras dengan alamnya dan masyarakatnya. 


Melihat dari perspektif ini, saya mendapatkan sebuah gambaran bahwa proses pendirian gagasan awal mula pendidikan nasional adalah merdeka dalam belajar yang akhirnya membawa dampak signifikan bagi perebutan kemerdekaan. Merdeka dalam belajar dari rentetannya telah membawa marwah bangsa Indonesia merdeka dari belenggu penjajahan. Artinya pendidikan nasional memiliki peran penting dalam mengimplikasikan nilai-nilai pendidikan dalam memerdekakan pikiran akal budi bangsa kita.


Dalam pandangan ini, saya mempunyai cita-cita ke depannya melahirkan pendidikan yang merdeka bagi siswa. Karena saya seorang calon Guru Bimbingan Konseling, maka konteks utamanya adalah pendidikan karakter. Berbagai cara dapat ditempuh guna memberikan akses seluas-luas terkait minat dan bakat peserta didik. Bila ia sudah menemukan jati dirinya yang merdeka, sehingga ia akan mudah beradaptasi membentuk habitat yang baru menjadi pribadi-pribadi yang  merdeka.(*)

 

Sabtu, 18 November 2023

ASUS Zenbook 14 OLED (UM3402) Pilihan Tepat yang Modern dan Berkelas

Sabtu, November 18, 2023
Kehadiran produk Asus selalu mampu memikat pengguna laptop. Salah satunya Zenbook 14 OLED (UM3402), sebuah laptop yang dirangcang dengan ultra-portable mempunyai prosesor AMD Ryzen 5000 Series. Laptop Zenbook 14 OLED (UM3402) telah bertransformasi dengan tampilan berkelas, ringan, dan lebih ringkas dari sebelumnya. Sebuah laptop yang dirancang sesuai standarnya.

Salah satu ciri khas unggulan laptop dengan warna Jade Black nan elegan ini tak pernah lekang oleh waktu. Spesifik secara detailnya meliputi pada belakang layar ditampilan logo mogram aksen ‘A’, logo ini pertama muncul pada Zenbook edisi ulang tahun ke 30-nya. Ciri khas utama logo ini menampilkan presisi bodi laptop berbahan alumunium yang ringan dan tangguh. Pada bagian engsel laptop ini, dapat kita temukan pula Spun Metal Finish yang menjadi ciri khas Zenbook.




Laptop ASUS hadir dengan dilengkapi dengan Windows 11 Home. Ketika pekerjaan menumpuk, laptop ASUS dengan Windows 11 siap membantu Anda menyelesaikannya. Laptop ASUS dengan Windows 11 yang lebih nyaman di mata, memungkinkan Anda mengekspresikan diri dan cara kerja terbaik Anda. Dan tidak hanya Windows 11 asli, tersedia juga genuine Microsoft Office 2021 untuk menunjang aktivitas kamu sepanjang hari.


Dilengkapi Office Pre-Installed


Nikmati semua manfaat dengan PC yang lengkap – PC sudah termasuk Office Home & Student 2021. Aplikasi Office versi lengkap (Word, Excel dan PowerPoint) memberikan semua fungsi yang dibutuhkan dan diharapkan oleh penggunanya. 


Penggunaan aplikasi Office seumur hidup dapat memastikan Anda untuk selalu memiliki akses ke fitur yang Anda kenal dan sukai. Dilengkapi dengan 100% aplikasi Office asli, software juga akan terus mendapatkan pembaruan keamanan yang rutin untuk melindungi perangkat, program dan data Anda. 


Lalu, model apa saja yang dimiliki seri produk ASUS Zenbook 14 OLED ini? Kecanggihan fiturnya menjadi pembeda model dari tipe lainnya, nah saatnya kita bahas secara lebih detail di bawah ini.



Desain yang Lebih Berkelas

Pertama, fitur yang dibekali pada Zenbook 14 OLED (UM3402) ini memiliki kemudahan bagi pengguna seperti 180° ErgoLift Hinge sehingga dapat mengetik lebih nyaman. Selain itu, bagi pengguna, khusus fitur NumberPad 2.0 dapat membantu meningput angkat secara cepat serta mampu membaca sensor sidik jari telah terintegrasi melalui tombol power untuk kemudahan proses login.


Bagi Anda yang kesehariannya beraktivitas baik online conference call maupun video call, laptop Zenbook 14 OLED (UM3402). Kameranya telah didukung teknologi 3DNR menjadikan aktivitas video conference yang minim cahaya dengan noise yang minim. Tidak perlu khawatir dengan suara bising di sekitarnya saat melakukan online conference call, kecanggihan teknologi AUS AI Noise-Cancelling membuat pengguna Zenbook 14 OLED (UM3402) dapat nyaman menggunakannya.

 

Tak berhenti di situ, kecanggiha lainnya berupa teknologi ErgoSense Keyboard menjadikan mengetik di laptop ini semakin sempurna. Teknologi ini menggabungkan desain keyboard full-size dengn key pitch 19,05 mm dan key travel sejauh 1,4 mm jadinya memberi pengalaman mengetik dengan akurasi dan kenyaman semakin tinggi. Sisi touchpadnya dilapisi hydroponic menjadikan permukaannya lebih halus.



ASUS OLED Manjakan Pengguna
  

Jika Anda pengguna baru maupun pengguna setia Asus, layarnya memanjakan pengguna dengan resolusi 2,8K (16:10) memilikii bermacam inovasi teknologi yang mampu menghasilkan layar dengan tampilan warna yang tidak merusak mata, akurat dan sangat kaya. Laptop ASUS OLED di Zenbook 14 ini pula memiliki rasio layar yang lebih luas untuk aktivitas produktif kamu.

 

Perusahaan terkemuka Asus juga memanjakan penggunanya dengan tampilan layar visual dengan kualitas warna yangg tajam. Begitu pula, color gamutnya saja hingga 100% DCI-P3 telah bersertikat PANTONE Validate Display. Sementara itu teknologi HDR-nya juga tersertivikasi VESA DisplayHDR True Black. Maka wajar layar ASUD OLED ini dihadirkan dengan standar kebutuhan bagi Anda yang bergelut di industri kreatif.

 


Ketika pemakaian dalam waktu lama, tenang saja, fitur Eye Care ASUS OLED mampu mengurangi spektrum cahaya biru yang berbahaya bagi mata tanpa mengorbankan kualitas visualnya. Kemunculan inovasi termutakhir yang telah tersertifikasi ini TÜV Rheinland untuk low-blue light dan anti-flicker menjadikan pengurangan paparan radiasi sinar biru yang berbahaya bagi mata dalam jangka panjang.


Ringkas dengan Performa Andal
 

Laptop Zenbook 14 OLED (UM3402) ini memiliki keunggulan bisa dikatakan sempurna. Dengan ultra-portale-nya ini memudahkan kita untuk dibawa kemana-mana saat bepergian. Hanya dengan bobot 1,39 Kg, ketebalan 16,9 mm tetap mempunyai port yang lengkap dengan USB 3.2 Type-A, HDMI, 3,5 mm combo audio jack, serta dilengkapo SD card reader. Anda tidak perlu khawatir, Zenbook 14 OLED (UM3402) ini dibekali dua port USB 3.2 Type-C. Perangkat ini sangat mendukung fitur Display Port.



Fitur lainnya yang dimiliki Zenbook 14 OLED (UM3402) memiliki WiFi 6E sebagai konektivitas nirkabel berteknologi baru yang terhubung ke jaringan kencang WiFi 6GHz. Aplikasi seperti Bluetooth 5 tetap dihadirkan guna memberi kemudahan pengguna saat menghubungkannya ke mouse dan headphone nirkabel.

 

Secara singkat, penjabaran tentang Asus Zenbook 14 OLED (UM3402) menurut saya mempunyai performa komputasi yang sangat bisa diandalkan. Apalagi untuk memenuhi kebutuhan pengguna untuk kegiatan sehari-hari mempunyai prosesor AMD Ryzen™ 5 5625U telah menggunakan konfigurasi 6 core dan 8 thread dengan chip grafis terintegrasi langsung dengan AMD Radeon™ Graphics. Over all, menurut saya laptop ini sangat recomended bagi kamu yang membutuhkan laptop yang mampu bekerja dalam tempo lama. Sebab efesiensi baterainya yang 75 Wh ini dapat bertahan lebih dari 9 jam penggunaan.

 

 

Spesifikasi Asus Zenbook 14 OLED (UM3402)



Main Spec.

Zenbook 14 OLED (UM3402)

CPU

AMD Ryzen™ 5 5625U Mobile Processor

(6-core/12-thread, 16MB cache, up to 4.3 GHz max boost)

Operating System

Windows 11 Home

Memory

8GB LPDDR5

Storage

512GB M.2 NVMe™ PCIe® 4.0 Performance SSD

Display

14-inch, 2.8K (2880 x 1800) 16:10, ASUS OLED, 90Hz 0.2ms, 550nits,

DCI-P3 100%, Pantone Validated, VESA HDR True Black

Graphics

AMD Radeon™ Graphics

Input/Output

1x USB 3.2 Gen 2 Type-A, 2x Thunderbolt™ 4 supports display + power delivery, 1x HDMI 2.0b, 1x 3.5mm Combo Audio Jack, Micro SD card reader

Connectivity

Wi-Fi 6E (802.11ax) (Dual band) 2*2 + Bluetooth 5

Camera

Up to 1080p FHD camera

Audio

Smart Amp Technology, Built-in speaker, Built-in microphone, harman/kardon certified

Battery

75Wh, 2S2P, 4-cell Li-ion

Dimension

31.36 x 22.06 x 1.69 ~ 1.69 cm

Weight

1.39 Kg

Colors

Jade Black

Price

Rp11.999.000

Warranty

2 tahun garansi global dan 1 tahun ASUS VIP Perfect Warranty



Minggu, 11 Juni 2023

Mengembalikan Trotoar Bagi Pejalan Kaki

Minggu, Juni 11, 2023


Seharusnya
keberadaan trotoar menjadi sarana transportasi yang memudahkan bagi pejalan kaki. Namun, kini trotoar telah dialihfungsikan menjadi sarana lain. Misalnya di Kota Banda Aceh, ruas jalan beralihfungsi menjadi arena yang ‘nyaman’ bagi pedagang kaki lima, dipakai pengendara sepeda motor, hingga menjadi area parkir liar.

Dampak lain, beralihnya fungsi trotoar berpotensi mengakibatkan kecelakaan bagi pejalan kaki yang terpaksa masuk ke jalan raya. Saat trotoar beralihfungsi, kemacetan biasanya menjadi tak terelakkan. Karenanya aspek keselamatan dan kenyamanan trotoar perlu menjadi perhatian sejumlah pihak. Lantas apakah ini melanggar aturan lalu lintas angkutan jalan?

Mengacu pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan (UU LLAJ), Pasa 45 ayat (1) dikatakan bahwa fasilitas pendukung penyelenggaran lalu lintas dan angkutan jalan meliputi, trotoar, lajur sepeda, tempat penyeberangan pejalan kaki, halte, dan/atau fasilitas khusus bagi penyandang disabilitas, dan manusia lanjut usia.

Selanjutnya, jika kita berpedoman pada Daerah Milik Jalan atau DAMAJA disebutkan bahwa trotoar telah didesain memiliki elevasi lebih tinggi dari badan jalan. Sesuai DAMAJA ini pula, fungsi trotoar merujuk pada Departemen Pekerjaan Umum Tahun 1990, fungsi trotoar pertama sebagai jalur transportasi bagi pejalan kaki agar selamat dan merasa nyaman, kedua untuk meningkatkan kelancaran lalu lintas baik kendaraan maupun pejalan kaki. Terakhir, guna menyediakan akses ruang di bawah trotoar menjadi tempat utilitas kelengkapan jalan.

Melihat acuan ini, dapat kita katakan bahwa trotoar seharusnya menjadi sarana transportasi bagi pejalan kaki untuk mobilitas dan prasarana jalan pendukung utama transportasi kendaraan. Artinya, trotoar ini secara tak langsung menjadi milik utama pejalan kaki.

Beralihnya fungsi trotoar di Kota Banda Aceh menjadi lahan parkir, dan sejenisnya, dapat disimpulkan sebagai pelanggaran lalu lintas karena tertutupnya akses bagi pejalan kaki. Padahal pada Pasal 28 ayat (2) UU LLAJ disebutkan setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi perlengkapan jalan.

Lebih lanjut, secara tegas terdapat sanksi yang diberikan bagi masyarakat yang memakai trotoar menjadi milik pribadi dan menganggu pejalan kaki. Bunyi Pasal 274 ayat (2) UU LLAJ yaitu memberikan ancaman pidana bagi setiap orang yang mengakibatkan gangguan pada fungsi perlengkapan jalan adalah dipidana dengan kurungan penjara paling lama 1 tahun atau denda paling banyak Rp 24.000.000,00. Selain itu, jika melakukan aktivitas atau perbuatan yang mengakibatkan gangguan fungsi rambu lalu lintas, marka jalan, alat pemberi isyarat lalu lintas, fasilitas pejalan kaki, dan alat pengaman pengguna jalan dipidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250.000,00.

Lalu, langkah apa yang sebaiknya diambil Pemerintah Kota Banda Aceh agar akses terbaik bagi pejalan kaki tetap tersedia. Sebagai salah satu kota di Aceh yang menerapkan Syariat Islam, Pemerintah Kota Banda Aceh harusnya juga memandang bahwa menghargai dan menjamin hak bagi pejalan kaki juga menjadi upaya menegakkan aturan agama.

Ruas jalan di Kota Banda Aceh memiliki banyak fungsi, yang tidak hanya digunakan untuk aktivitas harian baik ke sekolah, atau tempat kerja, akan tetapi ia juga berfungsi sebagai sarana menuju rumah ibadah. Pun demikian, pejalan kaki juga menggunakan trotoar menuju halte terdekat saat akan menaiki Bus Trans Koetaradja. Artinya, pemakaian trotoar di Banda Aceh cukup beragam, maka amatlah perlu menjadi perhatian pemangku kebijakan atas pemanfaatan ini. Karena kita tahu bahwa fungsi trotoar ini sebagai bagian dari sistem transportasi. Oleh karenanya ini sejalan pula dengan perbaikan jalan dan halte, maka trotoar juga harus menjadi tempat yang nyaman bagi pejalan kaki.

Secara konkrit, pemerintah dalam hal ini Kesatuan Polisi Pamong Praja (Pol PP) Kota Banda Aceh harus melakukan upaya preventif maupun kuratif. Upaya preventif ini dengan melakukan sosialisasi melalui berbagai media baik baliho, radio, televisi, media cetak, dan media daring. Salah satu momen yang dapat dijadikan sebagai wadah sosialisasi adalah saat Pemerintah Kota Banda Aceh menyelenggaraan Car Free Day setiap hari Minggu.

Selain itu, tak salah pula Pemerintah Kota Banda Aceh dapat menggandeng pemuka agama menyampaikan dalam sesi ceramahnya bahwa menghargai pejalan kaki juga bagian menegakkan nilai-nilai Islam. Sementara itu, upaya kuratif melalui penegasan pelaksanaan fungsi pemerintah sebagai fungsi eksekutif dengan menindaklanjuti amanat UU LLAJ.

Jika selama ini PKL menjadi masalah dalam upaya pengembalian fungsi trotoar, maka Pemerintah Kota Banda Aceh perlu mencari solusi penataannya dengan merelokasi PKL ke tempat yang mudah diakses dan strategis.  Tentunya, Pemko Banda Aceh harus tegas dalam artian melalui pendekatan yang humanis dan tidak arogan.

Selain itu, Pemerintah Kota Banda Aceh perlu memahami pentingnya peran pejalan kaki dan hak-haknya dengan  membaca Laporan dari World Health Organization (WHO) berjudul Make Walking Safe: A Brief Overview of Pedestrian Safety Around the World.

Dalam laporan ini dikatakan bahwa keselamatan pejalan kaki adalah tanggung jawab bersama. Semua pengguna jalan memiliki peran dalam melindungi pejalan kaki. Namun, pemerintah dan mitranya harus memberi perhatian khusus melalui perundang-undangan, penegakan hukum, standar perlindungan pejalan kaki, dan desain yang dibangun untuk mencegah kecelakaan pejalan kaki.

Advokasi semisal membangkitkan tuntutan publik akan keselamatan pejalan kaki, termasuk anak-anak, orang tua, penyandang disabilitas sebagai pejalan kaki paling rentan juga dapat diterapkan. Upaya intervesi yang efektif guna melindungi pejalan kaki harus menggunakan pendekatan yang komprehensif dan berfokus pada kombinasi rekayasa, penegakan, dan pendidikan. Sehingga, melalui tindakan ini akan berkontribusi pada budaya keselamatan, pejalan kaki menjadi aman, dan menyelamatkan nyawa pejalan kaki.

Akhirnya, saat mendapati trotoar yang berfungsi pada semestinya, pemerintah telah menjamin kenyamanan pejalan kaki sesuai amanat Undang-Undang. Tinggal saja kapan dan bagaimana pemerintah melakukan aksi terbaiknya bagi masyarakat kota. Atau, ini hanya akan menjadi wacana klasik seperti klasiknya permasalahan ini yang tak kunjung diselesaikan.(*)

Opini sudah dipublikasikan di website matauro.id 

Minggu, 20 Oktober 2019

Mengaji Kepada Teungku, Budaya Aceh yang Patut Dijaga

Minggu, Oktober 20, 2019

Pengajian bersama Dr. Teungku Fatmi di masjid Al Makmur, Banda Aceh. Pengajian ini sangat digandrungi anak-anak muda di kota para raja ini. Foto: Dok. Pribadi.
Pernahkah Anda merasa jenuh dengan segala rutinitas yang dijalani setiap harinya? Pernahkah Anda merasa kekosongan jiwa tak terkiranya saat Anda kesepian? Barangkali inilah beberapa hal yang menghantui kalangan muda Aceh masa kini. Jika hal ini sudah mulai ada dalam diri Anda, kemungkinan bisa dipastikan ada satu sudut dalam jiwa Anda merasakan kehampaan. Dalam ritme hidup demikian, beberapa orang akan melakukan upaya penyegaran jiwa, baik mencari hiburan malam – meski bahagia sesaat – hingga meditasi, atau berzikir saat tengah malam.

Anak-anak muda yang merasakan kesepian itu, tentu akan berupaya mencari alternatif mengisi ketenangan jiwanya. Tak terkecuali melalui mengisi hatinya dengan spiritualitas. Beragam cara akan mereka lakukan untuk hatinya dapat utuh termotivasi kembali. Bukan tidak mungkin, upaya spiritualisme ini melalui pengajian.

Di era kekinian ini, fasilitas untuk mendapat ilmu pengetahuan begitu cepat, ialah melalui internet. Begitu juga bagi yang ingin menemukan ilmu agama, tentu internet salah satu solusi tercepat. Media daring baik lama website, twitter, facebook, Instagram, WhatsApp Group (WAG), maupun channel YouTube menjadi pilihan generasi milenial masa kini. Salah satu alasan mereka, lebih mudah dan bisa akses di mana saja. Namun, apakah keabsahan informasi yang disampaikan media daring ini dapat terpercaya? Apalagi mencari ilmu agama akan menjadi fatal jika salah dimaknai, berbeda dengan ilmu lainnya. Inilah yang sedang terjadi pada kehidupan anak-anak muda Aceh.

Jika meneropong lebih jauh, sebenarnya Aceh memiliki kebudayaan yang komplit saat seseorang akan berangjak belajar ilmu agama. Anak-anak sebelum diantar ke Teungku (sebutan guru mengaji di Aceh) orang tuanya mempersiapkan semuanya dengan mantap. Mulai dari memasak Bu Leukat (nasi ketan) hingga selai isian parutan kelapa yang dicampur dengan gula aren. Bahkan, di beberapa kalangan lainnya, memasak nasi beserta lauknya.

Saat malam diantar ke tempat mengaji tiba, maka semua anak akan melahap dengan nikmat bawaan tadi. Anak yang tadinya merasa asing ke tempat baru, akan disambut gembira oleh Teungku dan kawan-kawannya. Semuanya berbaur merayakan ada anak baru yang menjadi teman mereka dalam berilmu.

Dipilihnya Bu Leukat sebenarnya terkandung nilai filosofis yang sangat kuat. Beras yang tadinya terpisah, ketika menjadi ketan, dia menyatu. Ini dimaksudkan agar nantinya ilmu yang diajarkan oleh Teungku dapat melekat kuat dalam ingatan santrinya dan menyatu dalam perbuatannya. Pun demikian, selai isian kelapa campur gula yang manis ini dimaksudkan agar santri memahami bahwa ilmu ini akan amat manis bila terus dipelajari hingga akhir hayat.

Aktivitas anak-anak mengaji di Taman Pendidikan Alquran masjid Baitusshalihin, Ulee Kareng, Banda Aceh. Foto: Dok. Pribadi
Selain melalui Bu Leukat ini, tradisi mengaji di Aceh tentu memiliki fase. Masa dulunya, anak-anak sebelum diantar ke Dayah/Pesantren, mereka akan diajarkan terlebih dulu oleh orang tuanya. Barulah kemudian oleh Teungku Imum di Meunasah Gampong. Kemudian, saat anak sudah berani dan mandiri, orang tuanya akan mengantarnya ke Pesantren/Dayah. Program Magrib Mengaji, sebenarnya sudah lebih dulu dilakukan orang zaman. Sayup-sayup terdengar pengajian dari setiap rumah. Berbeda sekali dengan masa sekarang, anak-anak belia kita disibukkan dengan gawai dan orang tuanya pun semakin lalai.

Inilah yang harus dikhawatirkan. Generasi seperti apa yang akan lahir di Aceh, jika fase sejarah yang terjadi hari ini demikian? Mengaji melalui ‘Guru YouTube’ tanpa pendamping yang mahir, maka lahirlah generasi yang merasa paling benar dalam beragama. Alih-alih tontonan YouTube yang mereka nonton ini terkait terorisme. Sebab, tidak ada yang menyaring informasi yang sampai ke pemikiran muda mereka. Anak-anak muda yang sedang galau, mudah sekali hatinya menjadi kacau. Menganggap yang telah dilakukannya adalah yang paling benar, inilah bonus demografi yang membahayakan ruang entitas sosial maupun keagamaan kita hari ini.

Tradisi ini telah hilang saat mengaji di YouTube. Tentu akan jauh berbeda dengan apa yang saya sampaikan di atas. Tidak aka ada Bu Leukat saat Anda pertama kali mengantarkan pandangan Anda kepada channel ini. Tidak akan ada keberkahan dapat mencium tangan Teungku, seperti yang sering kita temui saat usai mengaji. Atau bahkan, tidak aka nada santri yang berdiri saat Teungku memasuki balai pengajian. Di Dayah, berdiri saat Teungku memasuki balai pengajian adalah bentuk penghormatan kepadanya. Saat Teungku sudah duduk bersilakan sajadah, barulah santrinya akan duduk dan dimulailah pengajian.

Infografis Mengaji Kepada Teungku dan YouTube
Kini, semuanya melalui perangkat daring. Belum lagi, bila ada yang salah mengutip, sengaja mengedit dengan maksud jahat, ataupun kesalahan editor video sebelum mengunggahnya di channel mereka. Meski, pada kolom komentar kita dapat bertanya, belum tentu akan dijawab di hari tersebut. Pun bila dijawab, seberapa persenkah keabsahan jawabannya?

Ya, tentu kita tidak dapat menyalahkan teknologi yang semakin berkembang ini. Semangat budaya post islamisme ini harusnya dapat dibendung dengan manajemen yang rapi. Beragam video yang tersebar di jagat maya kita, sejatinya menjadi wadah bagi anak-anak muda. Oleh sebab itu, anak-anak muda Aceh sejatinya punya cara berbeda dalam mengaji di YouTube. Misalnya, mencari dengan jelas biografi guru mengajinya; YouTube adalah sarana penamping, sementara mengaji langsung adalah sarana utama; jika masih ingin bertanya, sebaiknya kepada guru langsung; tak salah pula memulainya dengan makan Bu Leukat.

Budaya Aceh khususnya mengaji langsung kepada Teungku, sepatutnya harus terus digaungkan. Seraya tetap mengedepankan memanggil sebutan orang alim dengan Teungku, ketimbang menggunakan kata Ustaz. Sebab, istilah Teungku begitu melekat dalam benak orang Aceh. Harusnya ada kombinasi yang unik saat mengedepankan mengaji langsung kepada Teungku. Seraya mengaji dengan YouTube adalah pilihan kedua. Bila ada hal yang kurang penjelasannya di media daring, sejatinya anak muda Aceh sepatutnya menanyakan langsung kepada Teungku tersebut atau kepada Teungku lainnya.

Kehadiran ulama dari kota lain di Aceh, menambah khazanah keilmuan dalam beragama di Aceh. Hal ini bukanlah yang baru, sebab dari dulu Aceh sudah berguru hingga ke ulama dari Timur Tengah. Foto : Dok. Pribadi
Orang terdahulu sudah mengajarkan kepada kita pentingnya kroscek setiap informasi yang kita temui. Tak terkecuali ilmu agama. Sebab, agar tak salah dalam penafsiran maupun dalam beribadah. Ketika sudah begini, maka saya jadi ingat hadih maja  Aceh “Jak beutroh kalon beudeuh, bek rugo meuh saket ate” (Datanglah sampai ke tujuan hingga nampak, jangan sampai rugis emas bikin sakit hati). Hadih maja ini selaras pula dengan mengaji, sebab semua ilmu yang diserap santri perlu adanya kroscek mendalam. Guna tranfer ilmu agama dibentengi verifikasi yang akurat dan terpercaya dari Teungku-nya.

Kita tidak ingin, menjadi santri yang berilmu tapi tidak dibarengi dengan akhlak mulia. Kita tidak ingin menjadi santri yang serba tahu, tapi tidak bisa dicap orang berilmu lantaran tidak berguru langsung pada Teungku. Ikhtiar baik perlu komitmen bersama, agar budaya Aceh khususnya mengaji tak luntur oleh zaman dengan tetap menjaganya dan merawatnya. (*)

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Blog Budaya dengan Tema "Budaya Aceh di Mata Milenial", Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh tahun 2019.

Kamis, 08 Desember 2016

Pendidikan Tinggi Melahirkan Sikap Terpuji

Kamis, Desember 08, 2016
Foto: Syahri Afrizal/Humas Unsyiah
Kita kadang pernah menjadi orang kampung. Minimal pernah tahu jika di dunia ini ada daerah berlabel kampung atau pernah mengunjunginya. Banyak orang yang berasal dari kampung kemudian hijrah ke kota lalu memilih menetap di sana. Disaat telah menetap, mereka pun dilabeli orang kota. Padahal, sama saja, kita yang kini berada di kota menjadikan kampung sebagai kenangan masa kecil. Masa yang pernah dilalui hampir semua orang.

Biasanya, orang kampung yang hijrah ke kota memiliki beragam maksud dan tujuan. Ada yang ingin berdagang, mencari pekerjaan, menimba ilmu, dan sebagainya. Anda tentu menjadi salah satu di antara aktivitas yang saya sebutkan tadi. Saya tertarik pada bagian menimba ilmu. Mereka yang berasal dari beragam budaya dan karakter hijrah ke kota untuk menjadi cerdas. Ini dilakukan  agar tampil dan dipercayai oleh masyarakat. Di antara yang orang cerdas itu, ada juga yang ingin tampil hebat, dibanggakan, atau menaikkan derajat sosial.

Saat menimba ilmu di universitas, mereka dilabeli sebagai mahasiswa dan kerap menyebut dirinya sebagai agen perubahan dan agen aksi yang siap menyerahkan jiwa raga demi kepentingan rakyat. Selain itu, mereka juga dituntut memprioritaskan studi agar meraih kesuksesan. Salah satunya melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Kegiatan KKN mendorong mahasiswa untuk melaksanakan program-program yang bermanfaat bagi masyarakat. Namun, patut disayangkan jika masih ada mahasiswa yang tidak setuju dengan kegiatan KKN. Bahkan terkadang, saat hadir di tengah masyarakat, mereka memposisikan diri sebagai orang yang ‘berada’. Asumsi ini saya dapati dari beberapa teman saya yang mengikuti KKN dan merasakan kurang nyaman saat berada dalam satu tim seperti yang diuraikan di atas. Terkadang bagi mereka yang menganggap KKN tidak terlalu penting, bisa dikatakan kurang memaknai kehidupan. Namun, anggapan ini tidak bisa disamaratakan untuk semua mahasiswa.

Seharusnya, mereka yang telah menjadi mahasiswa lebih sadar bahwa esensi pendidikan adalah mencerdasi bangsa dengan sikap santun dan ramah kepada siapa saja tanpa membedakan ras, agama, apalagi status sosial. Sebab setiap mahasiswa patut menjalankan tri dharma perguruan tinggi yang salah satu poinnya menekankan pengabdian kepada masyarakat. Tidak hanya itu, selepas menjadi sarjana, terkadang ada juga mahasiswa yang tidak ingin mengabdi di kampung halaman. Padahal, di perantauan juga tidak memiliki pekerjaan jelas. Lagi-lagi orang yang lahir dari dunia pendidikan tinggi tidak menunjukkan ekpresi dirinya kepada masyarakat. Jika seperti ini, apalah arti memperingati Hari Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei?

Maka tak salah ketika Pramoedya Ananta Toer −sastrawan Indonesia− berujar Seorang terpelajar harus belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.” Ini menjadi rujukan bagi mahasiswa untuk mengedepankan hal baik dalam pendidikan tinggi. Mereka diharapkan mampu berpikir objektif, tanpa terkungkung pola pikir subjektif. Saat mahasiswa mampu berlaku adil, sikap mereka diharapkan memihak kepada kaum lemah yang membutuhkan dukungan. Oleh karena itu, pendidikan tinggi harus kembali kepada masyarakat bawah yang tunduk kepada kepentingan dan keadilan orang banyak. Hal sama diutarakan Tan Malaka,Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah mengganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan tidak diberikan sama sekali. 

        Pendidikan yang baik adalah yang mampu membekas dan berperan dalam keseharian masyarakat. Ia mampu hadir beriringan dengan kebudayaan sehingga menciptakan peradaban. Sudah sepantasnya, negara ini mengedepankan pendidikan agar cita-cita mencerdaskan bangsa terwujud. Sekaligus menjadikan Indonesia lebih bermartabat dan dihargai bangsa-bangsa lain. []


*Tulisan ini sudah dimuat di majalah Warta Unsyiah Edisi Mei 2016

Kata Saya

"Jabatan hanya persoalan struktural. Persahabatan selamanya."