Minggu, 15 Desember 2013

Kemudian Lalu Menjadi 23



Hari ini saya mengawali aktivitas seperti biasanya. Ini hari minggu, bukan yang kelabu. Kebiasaan buruk yang sulit saya pisahkan, saking cintanya adalah selepas subuh tidur lagi, tidak beranjak dari ranjang. Sungguh ini ranjang begitu menggoda. Jam 8 saya terbangun kembali, bersiap-siap untuk mandi, seraya ketika manda toilte siap saya bersihkan.
Malam sebelumnya bang Ferhat mengajak saya ikut dalam kegiatan “Wet-wet Gampong Pande”, ini merupakan kegiatan yang digalakkan oleh Gam Inong Blogger. Salah satu komunitas anak-anak muda aceh yang aktif menulis di blog. Saya tertarik dengan ajakan bang Ferhat. Kemudian saya iyakan saja, siapa tau besoknya (red. Hari ini) saya mendapatkan koin-koin emas yang sempat heboh itu di Gampong Pande, mudah-mudahan cukup untuk melanjutkan ke KUA, eh S2 maksudnya.

Jam 9 pas saya meluncur ke REX Peunayong. Lokasi pertemuan kami.  Saya sempat ingin berhenti sesaat, recananya mau telpon bang Ferhat. Tapi tiba-tiba lambaian tangan seseorang sambil loncat-loncat Teuhing Igo (red.Menampakkan gigi putih), seperti orang yang sedang menunggu kepulangan seseorang di stasiun kereta api. Ternyata itu bang Ferhat.
Sesampai di sana sudah ramee yang hadir, selain bang Ferhat, semuanya tidak saya kenal, ada yang brewokan, ada yang matanya sipit hampir mirip artis korea, ada yang bapak-bapak, banyak versilah. Kayaknya saya yang paling muda. Barangkali mereka-mereka ini adalah pekerja semua, termasuk bang Ferhat.

Kami tidak menunggu lama, sejurus kemudian meluncur ke gampong Pande. Kalau dari REX Peunayong, kita meluncur terus kearah gampong Keudah, kemudian tak jauh langsung menuju gampong Pande. Di sana kami menuju ke Komplek Makan Tuan di Kandang. Dalam komplek ini banyak di huni oleh pekuburan-pekuburan masa kerajaan dulu, ada yang bentuk nisannya besar dan ada pula yang kecil. Kalau bentuk nisannya polos, berarti itu adalah kuburannya laki-laki, nah kalau yang di batu nisannya ada kayak berbentuk telinga, itu kuburannya perempuan. Namun, ada juga bentuk batu nisannya lonjong, saya baru kali ini melihat batu nisannya begini. Di setiap batu nisannya dihiasi ukiran-ukiran tertentu. Yang kalau zaman sekarang gak bakalan ada lagi yang nisannya seperti ini.
Makam-makan di Komplek Tuan di Kandang

Kemudian kami melanjutkan perjalanan “Wet-wet Gampong Pande” ke kampong sebelah. Tepatnya gampong Peulanggahan. Tepatnya ya di Mesjid Teungku di Anjong. Di sebelahnya ada komplek pekuburan warga juga ada pekuburan-pekuburan di masa-masa memperjuangkan kemerdekaan dulu. Saya dan bang Ferhat menyempatkan mengunjungi kuburannya Mardiana “Diana” yang dibunuh dan diperkosa oleh pamannya sendiri dan di sebelahnya kuburan ibunya. 

Setelahnya saya menunggu juru kunci makan Teungku di Anjong, karena makam inilah yang menjadi fokus utama di lokasi ini. Tak lama, juru kuncinya hadir yang masih juga kerabat dari Teungku di Anjong. Memasuki makam Teungku di Anjong ini, kita juga harus mengambil air wudhu dulu. Saya tidak tau banyak mengenai Ulama Aceh ini. memasuki ruangan kuburang beliau tidak ada hal-hal yang berbau aneh. Biasanya saja, kuburan beliau pun berdampingan dengan kuburan isterinya, Siti Fatimah. Kata juru kunci itu, ini adalah isteri kedua Teungku di Anjong, kalau isteri yang pertama makamnya di Ule Kareng. Kata beliau lagi, Siti Fatimah sendiri adalah orang asli negeri Yaman. Teungku di Anjonglah yang membawanya pulang ke Aceh. 

Di samping makam Teungku di Anjong ada juga 3 kuburan kadamnya (red.pelayan) dan di sebelahnya lagi ada pekuburannya murid-murid teungku di Anjong. Bahkan ada yang salah satunya adalah teman akrab dari Ulama Aceh Teungku Ibrahim Woyla, Aceh Barat. Mesjid Teungku di Anjong sendiri, pada bencana Tsunami 2004 lalu termasuk mengalami kerusakan yang parah. Kalau yang ada sekarang, diperkirakan 20% masih bangunan lama dan 80 % lagi adalah bangunan baru bantuan pemerintah. Tapi tetap dibangun dalam bentuk yang lama, mesjid ini tidak ada kubahnya. Kalau makam Teungku di Anjong sendiri, tidak mengalami kerusakan. Pada lantainya saja kita masih bisa melihat keramik-keramik pada masa dulu, klasik.
Makam Teungku di Anjong

Meninggalkan makam Teungku di Anjong, kami kemudian meluncur ke kuil umat Hindu di Banda Aceh. Kuilnya terletak di jalan Tgk Dianjung No.25 Banda aceh. Nama kuil ini adalah “Koil Palana Andawer 1934”. Kedatangan kami disambut oleh pendeta kuil itu, kalau tidak salah nama Kisna. Kesan pertama waktu saya memasuki kuil ini, bau dupannya begitu menyengat, tadi pagi sekitaran jam 6 kata pendeta ini, beliau selalu sembahyang memuja dewa-dewanya. Dupa yang dibakar sudah tiada memang, namun baunya menyebar seisi ruangan, padahal pintunya di buka lebar-lebar pula. Tapi ya begitulah tata cara sesembahan agama Hindu. Di dalamnya ada lukisan-lukisan yang berbentuk patung-patung dewa Hindu. Disana di ceritakan dari mas kecil dewa Murga sampai menanjak dewasa dan juga tuanya. Di posisi tengahnya adalah letak patung sesembahan.

Ada juga patung dewa Ganesha. Kalau dewa Murga sendiri, bila ingin berkendaraan cukup hanya dengan menaiki burung merak. Dalam penjelasan bang Adi coordinator acara ini, bahwa orang India itu ada dua, suku Tamil dan suku Punjab. Kalau yang suku Tamil itu kulitnya hitam, nah kalau suku Punjab kulitnya putih, barangkali Pretty Sinta, Shahruh Khan, atau Salman Khan dari suku Punjab. Kenal dengan di Kundan di film Ranjaaana kan? Alibi saya dia ini dari suku Tamil. Masih menurut bang Adi, kalau yang ada di Banda Aceh ini adalah suku Tamil. Ciri khas Hindu India di sini memang begitu bercorak, mulai dari patung-patung dewanya, lukisan-lukisannya, juga ada patung-patung sapi juga. Jujur, saya baru pertama kali masuk kuil Hindu. Kalau mesjid sudah sering he…he….he…
Kuil Palana Andawer 1934
 
Salah satu patung umuat Hindu di Kuil

Saya dan bang Ferhat memutuskan untuk tidak berlanjut ke agenda dari GamInong Blogger, mereka katanya ingin wisata kuliner juga. Sekalian dengan makan siang. Saya dan bang Ferhat rencana mau ke diskotik, namanya Rumcay, saya awalnya tidak berniat melakukannya, tapi karena paksaan bang Ferhat, hati saya pun luluh. Padahal di malam sebelumnya bang Ferhat bilangya, kita gak perlu ikut-ikutan acara di Rumcay, acaranya COCTAIL PARTY. Dengar namanya saja sudah takut, bang Ferhat ngomongnya gini 

“Rif, kita ini manusia-manusia pilihan, ntar kenak marah lagi sama Om Mario Teguh, gak usahlah kita ikut COCTAIL PARTY itu, ntar kita mabok lagi”.
Saya cuma mengiyakan saja, selaku bang Ferhat sudah jadi sesepuh bagi saya pribadi.
Tapi, hal aneh pun muncul. Entah dari bisikan planet mana, tiba-tiba bang Ferhat ajak saya ikut acara COCTAIL PARTY itu. Katanya orang-orang di Rumcay udah pada “TELLER” (maksudnya teler, bukan TELLER BANK) semua. “Asik bener orang tu rif, ikot yok!”. Lagi-lagi bang Ferhat mampu memperdayakan saya, perut pun keroncongan, lagian kayaknya cocok juga bagi saya yang lagi stress dengan urusan kampus ditambah urusan asmara yang makin fuckir saja. Ah itu Mei emang gurawan, sekarang Desember waktunya hura-hura lalu bikin karya.

Saya meluncur ke Rumcay. Bang Ferhat di depan saya, ditemani seorang sahabatnya. Jangan-jangan yang dibelakang bang Ferhat itu adalah agen CIA bisa jadi juga agen FBI, tapi dia gak mungkin SATGAS PA. Kawan bang ferhat lalu diturunkan di depan Hotel Madinah. Dan kami siap-siap terjun ke Rumcay.

Di Rumcay ramee benar yang sudah datang, ada yang bawa mobil, sepeda motor, bahkan ada juga yang dari Pantai Selatan. Gak kebayang COCTAIL PARTY nya entah bagaimana. Ohya ada juga didatangi oleh Kamen Raider, wah seruu pokoknya. Waktu pertama masuk ke area diskotik, saya pikirnya lampunya gelap, terus cauam diterangi oleh lampu warna-warni. Air mabok di sana sini, ada yang lagi isap sabu-sabu, mungkin Wishky pun ada. 

Namun, apa yang saya pikirkan ternyata tidak seperti itu. Saya masuk meberi salam, lalu di jawab, bersalaman, sejurus kemudia saya disuguhkan buah-buahan. Ah ini bukan COCTAIL PARTY ya? Oh tidak ini namanya ngerujak, ya Ampun! Lalu saya makan semuanya, sampai masih ada sisa. Untung tidak mabok beneran. Kami di sanan tidak Cuma COCAIL PARTY, tapi ada juga membahas tentag cara meresensi buku baik fiksi dan non fiksi, maaf kalau buku nikah itu gak bisa di resensi.
Logo Forum Lingkar Pena, dan Rumcay ada si sana

Ba’da Zuhur saya ke rumah kakak, katanya di sana kakak ada masak “Gulei Pliek”, makanan khas orang Aceh. Ditemani dengan ikan asin lengkaplah kenikmatan makan siang saya, ditemani dengan keempat keponakan saya.

Hampir mendekati jam 3 saya meluncur ke tempat sahabat-sahabat saya ke pantai Taman Unsyiah. Mereka sedang melepas penat setelah selama seminggu-an lebih melaksanankan latihan kepemimpinannya PII. Dengan tancap gas saya menerobos jalan melawan badai, maksudnya agin. Sampai di sana say tidak mandi, saya memandang alam pantai yang anggun dan syahdu. Anginnya menyibak poni, bagi yang memilikinya. Beberapa sahabat-sahabat saya ada yang mandi, ada juga yang duduk santai-santai saja, walaupun di tengah suasana santai, mereka tetap saja berdiskusi tentag segala hal, hokum, politik, akidah dan perkara-perkara keummatan lainnya.

Malamnya kami dari PII Perguruan Tinggi kota Banda Aceh mengadakan sesi seremonial penutupan pelaksanaan Leadership Basic Training (LBT) PII. Selepas Isya seluruh kader PII Perguruan Tinggi memenuhi meunasah gampong Blang Kreung, juga turut hadir Keluarga besar PII, Keuchik, Sekretaris Desa, dan juga Mukim Seulang Cadek. Acara seremonialnya diawali dengan pembacaan ayat suci dan lalu kata sambutan dan diakhiri dengan doa. Training usai.
 
Logo PII Perguruan Tinggi
Saya pulang kembali ke rumah. Rintikan hujan mengenai tubuh saya. Dari beberapa bulan yang lalu saya tidak memunculkan lagi tanggal lahir saya di Facebook, bagi saya itu tidak terlalu penting, tahun lalu pun dinding fb saya aman-aman saja, sekarang juga begitu. Merayakan hari lahir itu sendirian lebih seru, tidak ada telor dan tepung, jujur saya termasuk tipe yang tidak suka dengan budaya lempar tepung dan caplok telur. Merayakan sendiri dalam suasana ramee itu baru hari lahir, sambil kita senyum-senyum penuh kemenangan dari sang Khalik, pemilik diriku.

Menjadi pribadi yang baru di tanggal 15 Desember 2013 dengan usia 23 tahun bagi saya adalah pencapaian yang diberi oleh Tuhan untuk terus mengenalnya dan mengenal seluruh isi ciptaan-Nya. Kadang saya pernah lalai dalam hal ibadah, masih kurang bisa mengatur diri, malas, tapi itu semua harus saya hilangkan pada usia 23 tahun ini. Menjadi pribadi yang tau diri dan tau eksistensi di muka bumi ini untuk apa. Dan baiknya teman-teman saya tidak menanyakan tiga hal kepada saya, “Kenapa kamu gak pacaran”, “gimana dengan kuliahmu?”, “Sekarang ada kerja di mana”, “Kok kamu kurus sekarang?”. Itu pertanyaan-pertanyaan yang tidak harus saya jawab.

23 tahun bukanlah masa-masa kanak-kanak lagi, proses kedewasaan saya terus berjalan. Maka saya pun harus menjadi pribadi dewasa, tidak Cuma dewasa fisiknya saja, tapi juga hati dan otak. Kepada Allah saya memohon ampun, semoga saya masih diberi umur panjang, dan tuan dapat menikmati tulisan ini di tahun 24 saya. Aaminnn…


2 komentar:

azalia izdhihar mengatakan...

Saya suka ini.

Anonim mengatakan...

terima kasih sudah membaca:)

Kata Saya

"Jabatan hanya persoalan struktural. Persahabatan selamanya."