Selasa, 25 Maret 2014

“Menemukan Cinta di Waktu yang Tepat”



“Tidak hanya sekadar menyeru kepada kebaikan, semoga buku ini juga bisa sekaligus mencegah keburukan…”

Ini adalah awal pembuka dari buku yang saya baca. Buku ini sangatlah unik, dengan mengambil judul “AKU, KAU, & KUA”. Tiga kombinasi kata-kata yang saya sebutkan di atas adalah kombinasi yang menarik dan unik. Hanya melalui tiga huruf menjadi padanan sebuah judul yang menarik sekaligus menggelitik.

Adanya gambaran awal tentang berkeluarga kelak atau sebelum pernikahan untuk jenjang remaja dan mahasiswa atau bahkan yang memang sudah layak menikah tapi tak kunjung-kunjung menikah juga menjadi sorotan menarik.

Dalam buku ini sendiri kita diarahkan untuk mengenal dunia perkawinan yang seharusnya. Misalnya dalam memilih jodoh, proses lamaran, hal-hal yang bekenaan dengan resepsi perkawinan, komunikasi setelah pernikahan yang semuanya dibungkus dengan bahasa menarik, sederhana dan mudah dimengerti.

Ada juga dilengkapi dengan tweet-tweet seperti “Man Joddoh Wa Jodoh (Siapa yang bersungguh-sungguh mencari jodoh, bakal ketemu jodohnya)”. Ini mampu memberi tafsiran bahwa jodoh itu mestinya dijemput, tidak hanya melalui doa saja, usaha juga wajib.

Berikutnya juga ada tips-tips kita dalam menjemput jodoh. Seperti harus adanya semacam perencanaan dalam mencari jodoh, menjalin korelasi yang baik, ikut dalam komunitas akan memudahkan kita berteman dengan siapa saja, mana tau bila kita berkecimpung dalam komunitas tertentu malah dapat jodoh. Terus juga harus sesuai dengan kalau boleh saya katakan sesuai dengan isi dompet. Maksudnya harus realistis dengan keadaan kita juga, boleh untuk tidak berangan terlampau tinggi. Sementara, kita tidak memenuhi kriteria dari sang calon. Dari kesemua tips-tips tersebut yang kalau di rangkumkan menjadi sebuah rumus dengan singkatan 3B: Berdoa, Berusaha, dan Berkaca. 

Lebih menarik lagi dalam buku ini juga dipaparkan sebuah akun yang begitu giatnya mencari jodoh via sosial media. Akun tersebut menggunakan bahasa yang santun dan tidak menampilkan kecerobosan. Akun sosial medianya melalui @tweetnikah.

Diantara sekian banyak tulisan menarik dari buku ini, saya melihat kata-kata seperti:
“Apabila anda ditinggalkan atau dikecewakan orang yang sangat Anda cintai, biarkan saja. Seharusnya Anda kasihan padanya”.

“Anda hanya kehilangan orang yang tidak mencintai Anda. Sedangkan dia? Dia baru saja kehilangan orang yang sangat mencintai dirinya, andai dia tahu”. 

Penulis mengajak kita bahwa dalam mencintai seseorang yang belum tentu jadi dengan kita, tidak perlu berlebihan. Karena ketika terpuruknya cinta, malah kita yang susah untuk menemukan yang pantas dengan kita, lalu kita karena kegalauan mendalam dengan siapa saja kita mau, padahal itu bukan unsur cinta, tetapi kemauan. Makna lainnya adalah, setiap usaha itu ada kendalanya, namun melepaskan juga baik, bisa jadi orang yang begitu kita harapkan malah kedepannya bila menikah nanti malah memberikan kekecewaan buat kita. Jadi, tetap berdoa, berusaha dan berkaca.

Ada juga dalam buku ini disadurkan beberapa dalil berkenaan dengan urusan menikah. Bagus memang hanya diambil terjemahan saja, tidak dikutip ayat dalam versi arabnya. Boleh-boleh saja. Buku ini juga tidak berkesan bahwa semacam buku fikih menikah, tapi lebih kepada nilai-nilainya saja yang disadurkan.

Secara keseluruhan buku ini layak untuk di baca oleh kalangan remaja, mahasiswa dan juga yang hendak menikah. Dengan bahasan yang mudah dipahami dan humoris semakin menambah ketertarikan membacanya. Menikah adalah membina bahtera, dia hadir menghiasi batera. Jadi, sudah siap menikah?

Peresensi       : Muarrief Rahmat
Judul               : KAU, AKU, & KUA
Penulis            : @tweetnikah
Penerbit         : PT Elex Media Komputindo
ISBN                : 978-602-02-0580-9
Terbit              : I, 2013
Tebal              : xxiv 90 halaman

6 komentar:

Anonim mengatakan...

Woooh.. kayaknya menarik..

Rahmanovic Mee mengatakan...

penasaran sama isinya :) , tfs :)

Muarrief Rahmat mengatakan...

kak cut: benar2 menarik, saya aja ngakak bacanya :) makasih udah mampir

Muarrief Rahmat mengatakan...

kak rahma: wah kata2nya sederhana, gk menggurui :)

Azhar Ilyas mengatakan...

Kumpulan tweet dijadikan buku. Wow! Mantap!

Anonim mengatakan...

Segera bang punya buku haha

Kata Saya

"Jabatan hanya persoalan struktural. Persahabatan selamanya."