Selasa, 01 April 2014

Mempertanyakan Gerakan Orientalisme untuk Islam

Judul Buku      : Islam dan Orientalisme
Penulis             : Maryam Jamilah 
Penerbit           : Rajawali Pers
Terbit               : Juli 1997
Tebal               : 214 + xxiv Halaman
ISBN               : 979-421-389-6
 Peresensi        : Muarrief Rahmat

Islam adalah agama bagi semua makhluk di dunia. Memahami dunia Islam selalu menjadi perkara yang menarik. Para pegiat dan cendekiawan muslim menjadikan agamanya sebagai sebuah wadah mendapatkan ilmu-ilmu dan terobosan yang baru. Intelektual muslim bukan saja menjadi pengkritik bagi umat penganut muslim saja tetapi ikut pula dengan semangat mengkritik pemikiran-pemikiran bangsa barat terhadap upaya mereka menjatuhkan dan mengecilkan Islam dimata dunia. Orientalisme adalah kajian tentang Dunia Timur beserta peradaban dan agamanya yang dilakukan oleh bangsa Barat. Dunia Timur menjadi awal hadirnya agama Islam dan perabadan yang terjadi tidak tanggung, bangsa Timur mampu menciptakan berbagai macam khazanah budaya yang jauh dari hedonismenya. Sangat humanis dan sosialis. Baik dari segi pendidikan, kebudayaan, kesehatan dan sistem pemerintahan serta kajian lainnya, menjadi sangat penting untuk dipelajari oleh bangsa Barat. 

Maryam jamilah dalam bukunya Islam dan Orientalisme memulai untuk mengkritik pihak barat. Yang kebayakan mahasiwa muslim sendiri begitu senang terhadap pola piker bangsa barat. Menurut mereka, bangsa barat adalah bangsa-bangasa yang telah maju, sementara Islam menjadi bangsa yang ortodoks, tertinggal jauh di belakang. Ada benarnya memang apa yang dipikirkan oleh mahasiswa Muslim. Kita juga dianjurkan untuk antisipasi terhadap segala kekurangan yang diakibatkan oleh pelaku agama Islam sendiri.

Menilik lebih jauh, penulis buku ini ingin membuktikan bahwa pemikiran-pemikiran cendekiawan muslim maupun mahasiswa muslim untuk tidak melulu membanggakan apa saja yang lahir dari dunia barat. Seolah-olah tidak ada celah lagi Islam menjadi agama terdepan dan pembaharuan ilmu di dunia. Penulis mengajak pembaca untuk memahami bahwa persekongkolan pihak Barat tentunya ingin menjatuhkan keagungan Islam.

Dalam buku ini membahas sejarah Islam di mata Orientalis, seperti yang dilakukan oleh seroang oreintalis J.N.D Anderson dalam kuliah umumnya kepada mahasiswa Universitas Punjab mengatakan jika syariah yang dijalankan oleh umat Islam saat ini tidak di ubah sesuai dengan tuntutan zaman, maka ini tidak akan diterima lagi oleh umat Islam. Mereka harus bercermin kepada Barat yang telah terlepas dari sitem agama dalam sebuah negara. Jika mereka tidak mengkonsepkan Islam ini dengan konsep Barat tidak akan maju. Seraja J.N.D memberi contoh terhadap apa yang dilakukan oleh presiden Tunisia kala itu, Habib Bourguiba melarang poligami. Di sini telah nampak kerjasama antara orientalis dengan pemimpin-pemimpin negara. 

Namun, setelah perang dunia kedua, kaum orientalis tidak lagi menggunakan konsep yang pertama, yaitu dengan  memaksakan kaum Islamis memakai hukum mereka. Tetapi, kaum orientalis lebih kepada perang pemikiran antar intelektual muslim. Dengan mempropagandakan pandangan mereka sendiri terhadap agama Islam. Mengajak mereka untuk berpikir maju dengan mengubah pemikiran mereka yang tujuannya adalah lahirnya Islam versi baru. Secara otomatis, syariah yang telah lama dianut perlahan-lahan akan ditinggalkan dengan sendirinya. Orientalis mencoba membuat keraguan-keraguan bagi muslim, target utama mereka adalah kaum terdidik.

Dr. Hitti secara tegas menolak perabadan Islam secara berlebihan, yang menurut pandangannya itu hanyalah kombinasi dari peradaban Semit, Yahudi, India, Persia, dan Romawi dengan perantaraan bahasa Arab. Dia mengelak kalau Islam ini mempunyai jalan sendiri. Namun, Maryam Jamilah membantahnya dengan beranggapan bahwa Islam ini mempunyai warna sendiri, Islam dapat masuk ke dalam setiap kebudayaan suatu daerah dengan tidak bertentangan dari Al Qur’an maupun Sunnah.
Dr.Cragg juga termasuk salah satu orientalis yang begitu gencarnya menyerang umat muslim. Dia berpendapat terhadap Islam ini seakan-akan Cuma otoritas tertinggi pemahaman Islam hanya dimiliki oleh dirinya. Dia membuat pandangan yang sangat bertentangan dengan keadaan semestinya. Dia menkonfrontasikan umat Islam dengan istilah neo-islam dan islam kuno. Dari neo-islam ini dia memberi gambaran berupa adanya sikap sekularisasi kepada mereka yang mulai peka terhadap kegemilangan pihak Barat serta menghindari sikap radikal terhadap orang yang berbeda keyakinan dengan mereka. Di lain pihak, Islam kuno digambarkan sebagai umat yang sangat tradisional jauh dari kemewahan tanpa adanya pendidikan. Lebih lagi digambarkan sebagai pihak radikal, dia juga memberi contoh seperti kaum Wahabiya di negeri Arab.

Ini dibantah pula oleh Maryam Jamilah. Dia menyebutkan bahwa “Realisme” yang diacu oleh Dr.Cragg memutarbalikkan ajaran-ajaran Islam kapan saja ajaran itu berlawanan dengan setiap zamannya dalam praktek masa sekarang. Dengan perkatanan lain, dia menunutuk kita (Muslim) untuk tidak lebih daripada mengakui kondisi status quo sebagai sesuatu yang ada, tidak dapat diingkari secara final. Kelompok reaksioner yang masih setia kepada Islam kuno digambarkan sebagai penjaga pintu belakang dengan paham dogmatik dan aliran peribadatan yang sudah tidak berlaku dan karena itu mereka tidak memberikan apa-apa. Bila pernyataan yang mendukung cinta kasih Kristen itu murni, mengapa dia tidak melancarkan protes secara terbuka terhadap ketidakadilan yang ada di mana-mana? Dan nyatanya dia tidak melakukannya.

Menurut amatan saya, di sini Maryam Jamilah tampak lemah dalam memberikan solusinya menentang pemikiran Dr.Cragg. Penulis seperti tampak mengalihkan pembicaraan. Sudah nayata Dr.Cragg menentang adanya Islam kuno dengan membuat adanya neo-islam atau Islam versi baru. Namun Maryam Jamilah malah membahas tentang kemurniaan agama Kristen. Padahal dia cukup membahas tentang Islam kuno dan neo Islam. Saya tidak menemukannya.

Ketika berkaitan dengan sekularisme, Smith menganggap apa yang dilakukan oleh pemimpin Turki kala itu Mustafa Kemal Attaturk yang memisahkan agama dengan negara begitu tampak pada hukum yang dijalankan masa itu. Smith beranggapan kelompok Kemalis adalah kelompok Islam terbaru yang mampu keluarg dari dogma-dogma islam fundamentalisnya. Kelompok kemalis telah sadar terhadap kemajuan bangsa Barat dan mengupayakan hadirnya pembaharuan dalam Islam. Dan menganggap kelompok Kemalislah yang paling kreatif.

Tidak tanggung, Maryam Jamilah membantahnya dengan seandainya kemalis itu benar-benar kreatif, sudah sejatinya Kemal Attaturk memberikan pemabaharuan terhadap kultur dan bangsa Turki memberikan sumbangan besarnya kepada umat manusia. Namun, impian itu tidak pernah terlaksana secara nyata meskipun didominasi selama rentang waktu 55 tahun pengupayaan westernisasi (pembaratan), Turki tetap saja baku secara kultural dan intelektualnya. Seperti penggunaan hurul alfabet selama rentang waktu tersebut, masih saja ada rakyat turki usia dewasa masih banyak yang buta huruf. Ini suatu kegagalan nyata.

Di akhir buku ini juga dibahas mengenai rencana jahat pihak orientalsime terhadap Islam. Seperti pemamparan yang dijabarkan oleh Dr.Muhammad al-Bahy, beliau menulis bahwa para orientalis pada umunya berusaha menyatakan kesetiaan umat muslim kepada Islam hanya berlangsung dalam waktu singkat saja. Karena dipengaruhi oleh kemajuan dari umat muslim sendiri, perubahan-perubahan seperti urusan ekonomi, politik dan lain-lainnya. Mereka ingin menampakkan kegagalan-kegalan penggunaan pemikiran-pemikiran Islam dan sudah sejatinya menggunakan pola seperti sistem kemajuan bangsa Barat. Mereka banyak melahirkan buku-buku yang membawa pembaharuan dalam Islam. Mereka menganggap Islam ini sudah selayaknya maju melalui westernisasi mereka. Kajian mereka memang sepintas menarik karena berkenaan dengan Islam. Tetapi mereka ingin sangat merubah sistem Islam. Sangat disayangakan para intelektual muslim yang diwakili oleh pemimpinnya lantas percaya begitu saja isi pemikiran bangsa Barat.

Orientalisme memang bukan kajian objektif dan tidak memihak kepada Islam maupun budayanya, mereka mengorganisir rencana jahatnya untuk menghasut pemudanya berontak terhadap agama yang  mereka yakini dan menjelek-jelekkan setiap warisan Islam terdahulu sebagai peninggalan yang tak bernilai.

Ini dapat dilihat dari kejadian pada Dr.Fazlur Rahman di tahun 1969 diberhentikan sebagai direktur Lembaga Penelitian Islam di Rawalpindi karena pendapat-pendapatnya bernada tidak Islami oleh kelompok garis keras di Pakistan, atas bantuan orientalis, dia kini mengajar tentang studi Islam di Amerika Serikat.

Secara keseluruhan menarik membaca buku ini. alangkah lebih bagus lagi buku ini segera di revisi ulang. Karena menurut saya masih banyak penterjemahan bahasa yang masih kaku dengan bahasa indonesia. Kovernya juga harus didesain lebih menarik pembaca. Saya menemukan kesalahan penulisan dibuku ini pada judul kecil yang disematkan pada tiap lembarannya di posisi bawah mendekati nomor halaman buku. Seperti pada bab pembahasan tentang Sekuler, judul kecil yang dibawahnya malah di tulis Islam di mata kaum Sekolah. Padahal ini harusnya sekuler, dan ini terjadi di semua halaman pembahasan tentang sekuler.

www.goodrreads.com

Apapun pandangan kaum orientalis tentang Islam mnenurut saya sah-sah saja. Apakah itu melalui jalur sekuler, humanis, modernis, yahudi dan kristen, kita umat Islam tidak perlu menutup diri terhadap pandangan-pandangan kaum barat terhadap Islam. Tidak ada salahnya, hal-hal yang dianggap perlu dalam mengupayakan pembaharuan dalam Islam itu sangat bagus untuk dipertimbangkan. Kita tidak mau selamanya di cap radikal dan tidak berpendidikan. Saatnya Islam bangkit!

Tidak ada komentar:

Kata Saya

"Jabatan hanya persoalan struktural. Persahabatan selamanya."