Sabtu, 10 Januari 2015

Pada Akhirnya...

Saya dan teman-teman yang sidang 6 Januari 2015

Kepada titik. Kemudian koma,

Ada lanjutan pada setiap langkah yang sedang kita jalani. Tidak banyak yang tahu kalau saya adalah orang yang tidak berencana kuliah. Sedikit mengulang, jika teman-teman saya yang lain setelah pengumuman kelulusan SMA, beberapa hari kemudian mereka mengikuti bimbingan belajar untuk bisa tembus perguruan tinggi impian. Saya berbeda. Saya mengisi masa-masa itu dengan pergi ke sawah, mengunjungi kebuh walau sekedar melepas suntuk pikiran. Berencana tidak melanjutkan kuliah, saya berani utarakan kepada ibu. Orang tua mana yang tidak syok dengan kabar ini. Kami delapan saudara kandung, saya anak bungsu, dan saya pula yang tidak berniat kuliah. Lantas, ada suatu kabar lain yang kemudian hari saya ketahui tentang ibu. Barulah saya mencoba untuk kuliah ke Banda Aceh.

6 Januari 2015, Selasa lalu saya mantap melepaskan masa mahasiswa dan sudah dinobatkan sebagai alumni. Masa-masa sebelum itu, saya benar-benar dipusingkan dengan tugas akhir alias skripsi. Ini adalah ujian yang beberapa orang menjadi hantu berkecamuk kala tidur, saya juga demikian. Tentang pada saatnya saya pula tidak bisa fokus mengerkan hal yang lain. Seperti menulis di blog ini, sampai-sampai blog inipun “Meujeulabah”. Ada semacam dosa jika saya menyempatkan menulis di sini, tanpa menyentuh itu skripsi.

Saya termasuk orang yang malas bimbingan dengan dosen pembimbing. Bukan karena dosennya tidak respek, tapi kemalasan saya ini sudah kadung akut. Tidak tahu juga kenapa, ada kenikmatan saat-saat melewati malas itu. Pagi-pagi setelah bangun tidur, saya biasanya menghilangkan pikiran yang membeban dengan menutup muka dengan kain atau membenamkan wajah di bantal. Lalu tidur lagi sampai hari mau menjelang siang. Ah, masa-masa rancu itu.

Tuntas membunuh kemalasan itu masa-masa dimana sidang sarjana telah dibuka, saat dimana saya kejar-kejaran dengan waktu. Otomatis kegiatan mampet pikiran saya selama ini, saya tuntaskan dalam sekejap. Bahasa penelitian kualitatif saya acak kadut, berbakat ada sedikit ilmu menulis memudahkan saya dalam mendeskripsikan apa-apa yang saya temui di lapangan. Tidak selamanya hidup ini nyaman jika berada pada zona aman. Saat menjadi panitai Mata Najwa On Campus Unsyiah, saya dan mahasiswa akhir lainya disentil oleh Menteri Susi “Saya aja yang ijazah SMP bisa jadi menteri, masak kalian udah jadi mahasiswa skripsinya gak kelar-kelar!”. Saya tertawa lebar kala desember lalu. Memang, kuliah dan tugas akhir ini begitu suram.

Sekarang saya memang sudah menuntaskan sidang sarjana. Banyak orang yang berkilah “Ngapain cepat-cepat sarjana, yang udah sarjana aja gak dapat kerja!”. Analoginya begini “Kalau belum siap kuliah, apa makin mudah cari kerja?”. Iya, semua sadar dalam dunia yang makin ‘membunuh’ adrenalin ini siapa saja pasti kalang kabut saat mencari pekerjaan.

Dulu saya orang yang paling tidak suka ditanyai “Kapan sidang?”, “Eh udah bab berapa skripsinya?”. Coba kalau kalian sedang menyusun skripsi terus ditanyai begini, apa gak ada rencana mau lempar orang itu ke sungai? Satu sisi emang bagus, tapi orang-orang yang belum dekat dan jarang berjumpa dengan saya, rasanya kurang wajar menanyainya. Ada semacam dongkol bila perlu untuk dijawab. Kenapa gak ditanyai dengan hal yang lebih normal “Gimana udah skripsinya? Apa yang bisa aku bantu?” ademkan kalau begini, kita-kitapun jadi tambah semangat, mana tau jodoh, bisa jadi heuheuhue…. (edisi syurhat) :P
Sekarang saya punya sayap baru, ada badai dan awan cerah sedang menunggu. Landasanya telah siap, tujuan juga sudah mantap, tidak mengepakkan sayap ini, lalu terbang. Saya percaya air laut aja berjumpa dengan air sungai dimuara, yaelah kan semua orang juga tahu. Sama halnya setelah hujan yang rinai kadang rintik, selang kemudian muncul pelangi, yaelah yaelah inikan pelajaran IPA anak SD. Tapi, ada secercah harapan dan rezeki yang ditentukan Tuhan.


Pagi rabu, 7 Januari 2015 menjadi pagi yang baru. Ada harapan baru dan langkah baru, mestinya ini menjadi langkah awal bagi saya untuk menjadi yang baru dengan kenangan-kenangan masa suntuk itu menjadi penyedap rasa. Saya masih ingat, tempat-tempat dimana saya menuntuskan skripsi ini. Tempat yang penuh nikmat, menikmati kesenderian. Alue Naga, kamar saya, ruangan tempat kerja, kampus dan tempat-tempat entah dimana lainnya saya bunuh semua malas yang menyemak ini. Teman-teman adalah penyemangat, ada teror-teror yang diberikan dan mereka tak segan membantu saya. Keluarga adalah hamba Tuhan yang paling dekat dengan saya, merelah yang telah mendidik saya untuk segera menunaikan kewajiban ini. Orang tua yang selaku ibu dikampung saban hari asyik dengan aktivitas taninya. Pagi sebelum sidang saya sempatkan menghubungi ibu dikampung, saya tak banyak bicara. Ibu saya ada kegiatan yang lain.

“Meunyo hana lee peu neuk peugah, kasep dile nyak. Payah lon jak bie eumpeun manok dile dan meujak u blang lhueh nyan”, tut bunyi telpon.


Ayah saya yang sudah duluan hijrah ke rumah yang baru, saya percaya beliau sedang menatap saya dengan senyum di surga. Beliau juga guru, tepatnya guru SD. Masa beliau masih hidup dulu, beliau bahkan tidak mau jadi kepala sekolah. Karena prinsipnya yang seperti ini, beberapak birokrat kecamatan menjatuhi jatah mengbadi lagi dikantor kecamatan setelah pulang mengajar, lantaran tidak mau menjadi kepala sekolah SD. Saya dan kemudian mana tahu suatu saat akan jadi apa, sesuai tempat dimana saya ambil studi, bisa saja saya menjadi Guru Bimbingan Konseling. Saya hanya bertugas menjalankan apa yang bisa saya lakukan.

Kepada titik. Kemudian koma, ada nuanasa baru setelah saya ‘hajar’ dan ‘bunuh’ malas yang hampir saja menggerogoti seluruh semangat saya. Kemudian koma, ada harapan dan tugas baru menanti. Rif, malam ini begitu teduh, langit boleh saja hitam, percayalah akan ada masa dimanat bintang-bintang itu menyatu, membentu cahaya baru yang membuang rasa sendu. Kelak, langkah pasti ini harus terarah dan dalam gelap menjadi terang. Menjadi penggerak!

6 komentar:

Azhar Ilyas mengatakan...

Wuaduh, saya masuk nggak ya dalam golongan orang-orang yang mau dilempar ke sungai, :D

Selamat satu kali atas sidang sarjananya ...

Anonim mengatakan...

hahaha, iya bang. Makasih ucapannya
ini memang suntuk bukan kepalang menulis skripsi :)

Ikbal Muhammad mengatakan...

Muarrief kapan nikah? hahaha

ariel mengatakan...

Tulisan nya bagus sekali. Setelah ini kepakkan sayap untuk lanjut S2 ya...

Anonim mengatakan...

Qe yg udah punya kekasih kenapa belum nikah? :P

Anonim mengatakan...

Hahaha, iya bg ariel. Rncana mau ikot jejak bg juga :D
Mohon doanya :D

Kata Saya

"Jabatan hanya persoalan struktural. Persahabatan selamanya."