Kamis, 21 Agustus 2014

Kamvrita

USAI SUBUH, Aku melewati mesjid Al Makmur. Para jamaah usai salat Subuh berduyun-duyun ke warung kopi sebelah setelah zikir-zikir dilantunkan. Warung kopi seberang, bentuknya nan mewah. Dinding-dindingnya dihiasi walpaper hasil impor dari daratan Eropa. Orang-orang sekitar mengenal warung kopi ini milik Markes. Setelah dia pulang dari merayakan haji tahun lalu, dia tambah giat menambah pendapatan. Niatannya ingin berhaji sampai beberapa kali.

Aku tidak ke warung Markes. Persinggahan kakiku melangkahi warung itu dan menyusup ke warung Salim. Salim yang mempunyai nama panjang Salimo. Aku lebih suka memanggilnya Salim. Kalau dalam literasi arab, Salim itu berarti sejahtera.

Warung milik Salim bentuknya sederhana. Dengan dinding bambu yang warnanya sudah usang. Meja di warungnya berwarna putih kehitaman dan kursinya juga kehitaman, lantaran ada bekas-bekas keringat para buruh yang pulang dari berladang. Para buruh itu aktif berkumpul di warung Salim, biasanya pada waktu siang.  Mereka memesan kopi, lalu sibuk mengobrol persoalan upah yang kian hari kian melilit leher. Salim bahkan tidak melarang mereka yang kumal dan bau untuk minum kopi di warungnya. Dia dengan santai menyeduhkan kopi untuk para buruh itu. Ini saban hari sudah menjadi rutinitas Salim, tentu selain menjadi pendidik.

Aku sampai di warung Salim yang disambut gerimis ringan. Bau sampah di samping warungnya menyengat. Pihak pembersih kota baru mengangkut sampah di warung Salim pada siang hari. Sementara di warung Markes, paginya sampah bahkan tidak lagi membekas. Aku tak mempersoalkan bau itu, bagiku sudah biasa. Salim sudah berungkali memprotes kepada pihak pembersih kota soal sampah di depan warungnya itu. Mereka berkilah, tidak perlu banyak memprotes karena hidup di kota Madoni. Asal selalu membayar upeti, Salim akan aman. Itu kilah pihak pembersih kota. Amarahnya dia pendam, dia sadar kalau dirinya adalah seorang pendidik yang perlu diteladani oleh anak didiknya.

Aku menyukai warung Salim karena bentuknya mengingatkan pada warung kopi di tempat asalku. Dari ornamen-ornamen dan tata letak warung kopi Salim semakin syahdunya menambah kerinduanku pada kampung halaman. Daerah yang kini telah damai pasca konflik antar dua negara.

Namun, itu hanya salah satu bagian yang menjadi penyukaku akan warung ini. Kedatangannku kali ini adalah menutaskan janjiku dengan Kamvrita untuk menemuinya sekaligus menumpahkan rasa rinduku. Kamvrita, gadis yang kukenal sebagai juniorku di kampus.
***
Pertemuan kami unik. Waktu itu sedang perayaan Imlek. Aku selaku wartawan ditugasi oleh atasan untuk meliput berita perayaan Imlek di vihara Mekoong. Kesanalah Aku pagi-pagi buta lantaran jarak yang lumayan jauh dari kosanku. Kamera setiaku tak ketinggalan kubawa. Aku ingin mendapatkan gambar-gambar yang bagus hari ini, cuacanya pun mendukung.

Vihara Mekoong terletak di kota Kuta Raya. Bagunannya berwarna merah dari atap sampai ke dinding dan juga tembok-tembok penyannga atap. Merah menjadi warna khas orang Tionghoa. Bagi mereka merah membawa peruntungan. Begitu juga bagi Kamvrita.

Aku mengambil foto perayaan Imlek dari sudut-sudut objek yang kukira dapat memotret dengan mudah dan hasil gambar yang baik.  Aku memotret orang-orang yang sedang sembahyang, dupa yang sedang dibakar dan ada asapnya yang keluar. Aku juga memotret keseluruhan bentuk vihara Mekoong. Sedang asyiknya memotret, lensa kameraku menangkap objek sosok seorang wanita. Aku terpana wajah cerianya. Dia memakai baju merah dan roknya sampai di bawah lutut. Rambutya disisir dengan rapi serta bentuk mata yang sipit juga ada bulu mata lentiknya. Ohya bentuk wajahnya oval putih dan pipinya menyiratkan warna merah muda. Lipstiknya tidak terlalu tebal, sederhana.

Aku sempat tak ingin mengambil gambar dengan kamera. Tapi, kamera ini sebagai bukti peliputan harus kurengguh lagi. Sudut-sudut gambar yang kuambil kini malah lebih banyak memotret wajahnya. Telah lama, akhirnya gadis itupun sadar dirinya sedang dipotret. Diapun memandang ke arahku dengan wajah senyum ceria, lalu berpose dengan dua jari. Seperti memberi suatu isyarat. Aku pun tambah riang menuntaskan objek kesukaanku saat ini.

Usai sembahyang, gadis itu menghampiriku. Uluran tangannya memperkenalkan diri.
“Saya Kamvrita, kamu?”, dengan senyum sedikit menggoda.
“Saya Fretto”, lalu gugup pun menyerang dan salah tingkah menghampiri.

Kami berbincang sejenak. Perkenalaan ini juga menyinggung persoalan pribadi. Mulai masa lalu, kesukaan, orang tua, karir dan kami tidak membahas soal asmara. Perbicangan kami seolah-olah sudah berkenalan sejak lama dan akhirnya bertemu lagi pada hari itu. Kamvrita ingin mengajakku ke rumahnya. Namun, halus ku tolak dengan dalih ada laporan liputan yang harus kusiapkan secepatnya. Kamvrita pun tak dapat memaksaku. Dalam pertemuan singkat itu, sempat kuberitahu apa yang telah mendesak dan sangat perlu kukatakan secepatnya. Aku melampiaskannya,  Kamvrita hanya tersenyum dan tidak memberi jawaban. Sejenak kemudian, dia memberikanku angpao yang sudah menjadi tradisi perayaan Imlek. Hanya sampai disitu, kami berpisah. Aku tak begitu gegabah ingin membuka angpao tadi. Ya, isinya sejumlah lembaran uang.

Aku salah. Ketika membukanya di kantor, malah aku dapati hal yang lain. Secarik kertas aku rogoh di dalamnya. Kamvrita menulis pesan “Warung kopi Salim, meja no.9, Kamis, 6 Februari 2013, pukul 8 pagi. Ada kabar baik yang akan kukabarkan padamu”. Kertasnya dibaui wangi parfum menyerupai wangi parfum ‘malaikat subuh’. Dia mengajakku bertemu kali berikutnya. Aku penasaran, kabar bahagia apa yang ingin disampaikan Kamvrita yang punya wajah rupawan dan dengan lesung pipi itu. Dan semenjak kapan Kamvrita mengetahui warung Salim, apa spesialnya warung kumuh itu baginya? Barangkali hanya sebagai tempat ketemuan saja, lantas memesan minum di tempat lain. Aku mencoba meyakinkan diri.
***
Teh hangat yang kupesan tadi sudah habis ku minum tanpa sisa. Aku kemudian memesan kopi. Racikan kopi Salim lebih nikmat dari kopi di warung Markes. Aku memintanya menambahkan sedikit susu kental, agar nikmatnya tidak ketulungan. Pada serupan kopi berikutnya, kedua mataku menangkap sesosok wanita. Dia berdiri anggun dengan tentengan tas di tangan kanannya. Dia tersenyum. Aku pun heran, sosok Kamvrita yang cantik dan wangi mau singgah di warung kopi Salim yang sederhana dan terkesan kumuh ini.

Aku menyuruhnya memesankan minuman. Kamvrita mengelak. Tangannya malah memegang cangkir gelas kopi pesananku tadi. Dia menyeruput pelan kopiku. Lalu dia menaruhnya lagi. Dalam suasana gugup, aku juga menyeruput lagi kopi tadi tepat dibekasan bibir Kamvrita. Dia tertawa melihat tingkahku. Baginya aku konyol. Lama kami dalam perbincangan melepas kerinduan pasca bertemu di vihara Mekoong bulan lalu. Gigi putihnya saat dia tertawa begitu tertata rapi. Aku bahkan tak berani memegang tangannya.

Tepat pukul 10 pagi, Kamvrita memesan minuman. Dari arah belakang Salim menghampiri. Aku duduk membelakangi Salim, sementara Kamvrita sebaliknya. Raut wajah Kamvrita berubah lebih cantik dari yang tadi. Dia menyambut Salim dengan hangat. Aku terkejut, lantaran mereka sudah akrab apalagi disambut dengan pelukan. Degup jantungku berdetak kencang, aku dapat merasakannya. Aliran darahku mulai terasa hangat di seluruh tubuh, ada keringat di dahi kepalaku. Aku hampir tak bisa mengontrol diri dengan kejadian barusan.

“Fretto, ini Salim, salah satu guru tempatku mengajar, sekaligus tunanganku”, raut wajahnya begitu bahagia dan merona memerah muda.


Aku bersitegang dengan diriku sendiri. Aku tak pernah mengira begini jalannya. Jika salahku merindui kekasih seorang guru. Maka maafkan, bersebab itu muncul tiba-tiba lalu melekat dari hari ke hari semenjak bertemu Kamvrita. Perasaan malu membuatku meninggalkan mereka berdua. Aku menumpangi bus ke arah kantorku. Aku pun menghilang semenjak itu. Yang pasti, tugasku telah usai. Apa yang menghambat di hati telah kutunaikan. Aku bahkan telah meninggalkan jejakmu, lagi. Itu telah lalu, sembari tetap menunggu dan sabar.[]

1 komentar:

rahmat aulia mengatakan...

Hoho Dek Kamvrita.....

Kata Saya

"Jabatan hanya persoalan struktural. Persahabatan selamanya."