Rabu, 08 Juli 2015

Menyantap 'Bu Linto Baro' Bulan Ramadhan di Banda Aceh



Usia hari Sabtu siang (4/7) lalu menunjukkan angka pukul 10.30 WIB. Saya baru saja tiba di kantor Humas Unsyiah. Hari itu memang lagi libur. Namun, saya terbesit untuk datang saja ke kantor, bersebab sedang khusyuk suntuk tapi tak masbuk, perihal lagi ada niatan memperbaiki blog pribadi ini. Dering handphone saya berbunyi. Saya ambil, ternyata muncul nama kontak Aslan Saputra, kawan saya satu organisasi menulis di Forum Lingkar Pena Banda Aceh. Saya mengangkatnya. Pembicaraan kami tertuju pada basa-basi beberapa detik awalnya. Sejurus kemudian, Aslan (Pemilik eliteword.blogspot.com) mengundang saya untuk hadir undangan buka puasa di tempatnya, tapi bukan di rumahnya, namun di Meunasah gampong istrinya, Ayi. Saya sangat senang atas ajakan ini, lebih-lebih sudah lama kami jarang berjumpa. Rasanya membangun kehangatan bersahabat selama bulan mulia ini sangatlah baik. Saya iyakan, dan tak sabaran menunggu hidangan nanti sore, *Eh maksudnya berjumpa Aslan. Yang katanya ini adalah undangan bukaan bagi Linto Baro di gampong itu yang dihidangkan bersama dengan linto baro lainnya.

Tiba di rumah bang ferhat pemilik goblog www.ferhatt.com ini, saya tunggu di pelantaran rumahnya, saya agak datang lebih cepat. Menunggu bang Ferhat yang sedang siap-siap, saya memantau timeline dan sesekali membaca artikel online.

Sesaaat tiba di rumah Ayi, Aslan sudah menunggu kami. Berbaju batik hijau dan ada lukisan-lukisan warna creamnya sangat padu dengan celana Aslan yang kream juga. Aslan nampak gemuk dan lebih sering senyum saat ini. Ada kecerian lain yang saya liha dari rautan wajahnya. Belum lagi saat ini Aslan sedang menunggu kelahiran bayi pertamanya.

Sekira jam 18.00 WIB kami mendarat perlahan ke meunasah gampong Batoh. Adit (Blooger di www.adityaantoo.blogspot.com) yang juga sangat sayang sama Emaknya itu awalnya rencana bepergian dengan kami, perihal dia penyiar radio yang makin kece, dia datang sedikit terlambat. Aslan dan Adiknya, Ravi siswa SMAN 2 Banda Aceh itu telah lebih dulu mengantar menu bukaan sore itu sebelum kami tiba. Di meunasah telah ramai dan riuh orang. Semuanya ada 9 Linto Baro yang hadir saat itu, membawa bekal masing dan diwajibkan mengajak minimal 7 orang kerabat atau kawan dekat untuk menyantap "Bu Linto Baro". Apa yang di bawa itulah yang disantap. Semua penuh dengan suka cita, ada yang sudah duluan menaruh semua menu-menu dalam satu piring. Lengkap, nasi, telor asin, kuah beulangong, mie hun, timun acar dan tambahan perkedel. Jadilah penuh akan piring si empunya itu. Ada juga yang standar-standar saja, sesuai dengan kebutuhan isi perut. Namun, air putih rasanya tak akan ketinggalan, gak mungkin juga buka puasa langsung dengan kopi, apalagi kopi pahit.

Di hari yang bersamaan itu juga, masyarakat kampung juga memasak Kuah Beulangong berupa daging yang dimasak dengan bumbu kari. Telah menjadi adat bagi masyarakat Banda Aceh dan Aceh Besar setiap bulan puasa memasak secara ramai-ramai daging sapi dalam sebuah belanga besar. Biasanya saat menjelang 17 Ramadhan memperingati malam Nuzulul Quran. Dan itu bentuk rasa syukur dan rasa membangun kehangatan bersama.

Sabar menunggu berbuka

Menyantap Bu Linto Baro bersamaan dengan Kuah Beulangong yang sudah duluan dibagikan sebelumnya kepada seluruh warga gampong ada kenikmatan tersendiri. Bagi saya yang dari Bireuen, akan merasakan sensasi lain. Mendapati dua tradisi yang dijalankan secara bersamaan, adalah bonus bagi pendatang.

Linto Baro yang belum sampai satu tahun atau baru pertama kali berpuasa ramadhan di gampong tersebut diwajibkan membawa makanan bukaan. Semuanya dimakan sendiri dan tetamu yang diundang oleh si Linto Baro. Tidak harus yang mewah-mewah, sesuai dengan tingkat penghasilan asal ikhlas berbagi di bulan penuh berkah ini. Lebih-lebih orang yang menyediakan menu buka puasa bagi orang lain akan mendapat ganjaran pahala yang berlipat-lipat, apalagi untuk anak lajan kayak kami hehehe.


Usai Magrib, saya, Adit dan bang Ferhat berpamitan sama Aslan. Kehangatan ini tidak akan berhenti pada hari itu, dia akan terus membersamai, sampai pada waktunya tiba, semuanya berpisah pada waktu yang ditetapkan Khalik. Bulan Ramadhan, hadir sebagai penguat batiniah antar manusia. []

2 komentar:

Anonim mengatakan...

LANJUTKAN ...ARIEF.....BY MAHFUD

Anonim mengatakan...

Makasih udah mampir bang mahfud :)

Kata Saya

"Jabatan hanya persoalan struktural. Persahabatan selamanya."